Kamis, 10 Februari 2011

Hal Ahwal Lead, Hal Ahwal Bunyi


Pengantar. Inilah berkala SALAM KREATIF edisi 13 April 2007. Isinya merupakan analisis atas berita HU Lampung Post. Analisis dilakukan Penelitian dan Pengembangan Lampung Post ini dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini jangan dilihat dari logika positivisme Augusto Comte, dan karena itu pasti hasilnya bukan bacaan yang enak dan menghibur meskipun perlu bagi peningkatan kualitas jurnalisme kita.
Kata juga merupakan tanda (sign) bunyi. Dalam dunia penulisan, wartawan Ernest Hemingway dalam laporannya tentang perang di Italia untuk koran tempatnya bekerja, mengandalkan bunyi dari setiap kata yang dipergunakannya. Dengan bunyi (tone) itu, pembaca menjadi tahu berita itu ditulis oleh Hemingway, meskpun seandainya tak ada nama Hemingway dalam berita tersebut. Itulah yang disebut style (gaya), dan ini sangat khas.

Bunyi (tone) sering diidentikan dengan rasa. Pemahaman terhadap bunyi itu membuat kalimat yang dihasilkan menjadi enak dibaca.

Judul berita “Lapindo Rugikan Rp27,4 Triliun” yang menjadi head line Lampung Post edisi 13 April 2007, dibuat tanpa kesadaran akan bunyi (tone). Kalimat judul itu tak jelas “siapa yang dirugikan”, padahal ada kata “rugikan” yang mesti diikuti dengan objek. 

Ini terjadi karena si pembuat judul terlalu focus pada jumlah baris yang disediakan, sehingga lebih memikirkan jumlah ketukan. Baiknya, lebih focus pada topic, tema, atau esensi berita, yakni “Lumpur merugikan negara”

Kalau subjek “Lapindo”—perusahaan—bagusnya kata “rugikan” diganti menjadi “rugi”.

Jadi, tawaran judul “Lapindo Rugi Rp27,4 Triliun” atau “Lapindo Rugikan Negara Rp27,4 Triliun”.

Lead berita sama seperti judul, tak jelas objeknya, meskipun sudah jelas subjeknya yakni “banjir lumpur Lapindo”.  Setelah memasuki alinea ke-2, baru jelas objeknya: Negara. Ini berdasarkan pada pernyataan Suprayoga Hadi.

Tawaran lead:

“Banjir lumpur Lapindo telah berlangsung sembilan bulan. Selama itu negara merugi Rp27, 4 triliun.”

Demi bunyi (tone) agar pembaca merasa nikmat. Lead mestinya disiasati agar pembaca merasa nikmat. Untuk itu, setiap instiusi pers punya standar lead, sama seperti Lampung Post: Lead to the point, tidak berkepanjangan.

Lead berita “Kapoltabes Siapkan Hukuman Maksimal” terdiri dari tiga kalimat, dan masing-masing kalimat terdiri dari 9—30 kata. Kalimat pertama 9 kata, kalimat kedua 15 kata, dankalimat ketiga 30 kata.

Dari jumlah kata saja lead ini sangat berkepanjangan. Apalagi bila dilihat dari jumlah tanda baca yang bisa memberi jedah bagi pemaca --- titik dan koma—jumlahnya 10: 3 titik, 7 koma. Lead ini menyusahkan pembaca, hal yang mestinya tidak kita lakukan.

Beri pembaca kenyamanan membaca. Karena itu, lead serupa harusnya tidak dilakukan lagi di Lampung Post.

Alternatif lead:

Kapoltabes Bandar Lampung Kombes Pol Endang Sanjaya akan memberikan hukuman maksimal bagi pelaku penculikan anak, apapun motif dari tindakannya.

Ada banyak teknik pembuatan lead, dan masing-masing sangat tergantung pada topik yang diberiakan. Setiap topic punya pilihan lead yang cocok, karena begitulah formula-formula lead dirumuskan. Kita tinggal mengaflikasikannya. Ke dalam work setiap redaktur, Litbang pernah mengirimkannya. Kalau tidak ada, bisa diambil di work korektor.

Soal “Guru Besar IPDN TolakAutopsi Jenazah…..” bukan berita baru, tetapi hasil penyidikan polisi tentang keterlibatan pejaba IPDN dalam kasus kematian Cliff Muntu.

Berita “Kerusakan Jalintim Menggala Makin Parah” adalah berita yang selalu saja muncul setiap tahun. Jalan rusak bukan hal ang aneh di Menggala, sebaliknya “jika jalan itu bagus, baru aneh”. Berita ini bagus untuk kapasitas feature, tinggal menyuruh wartawan memantau jalan itu dalam kurun waktu tertentu, lalu buat reportase tentang segala sesuatu di sana. Juga, dampaknya bagi perekonomian di daerah-daerah sekitar.              

“Sopir tak Pernah Munjur Lewat Lintas Timur”, bisa bercerita tentang pengalaman para sopir truk dan kerugian mereka. Lintas Timur adalah bagian dari megaproyek “Asia Ring Road” yang dibiayai oleh Bank Jepang dan dikerjakan oleh 10 kontraktor bertarap internasional.
             
 

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 Comments:

Posting Komentar

 

Belajar Jurnalistik Copyright © 2010 HATEESweb is Designed by Budi P. Hatees